.quickedit{ display:none; }
Showing posts with label Lika-Likuku. Show all posts
Showing posts with label Lika-Likuku. Show all posts

Saturday, March 30, 2013

Gelap

Sejenak aku berfikir
Bahwa semua ini tak seharusnya terukir
Sejenak aku merenung
Bahwa aku hidup hanya mendatangkan awan mendung

Gelap dan dingin
Terasa menyayat tubuh ini yang tak terselimuti
Dengan sesuatupun yang dapat melindungi

Hampa...
Semua tak berasa
Semua tak tersentuh
Meski telah terbit mentari shubuh

Hancur dan terperangkap dalam gelap yang gulita
Lagi pekat tiada penerang
Di dalamnya aku sendiri menangis tanpa kata
Dan sendiri tanpa cahaya
Dan di situlah kuyakini bahwa apa yang kulakukan
Hanya akan membawakan bahaya

Monday, March 25, 2013

Ruang Pemisah

Di dalam sebuah ruang
Kupandangi dirimu selalu
Akan tetapi, yang kudapati hanyalah...
Ekspresi wajahmu yang semu
Tak bergerak dan terkekang

Di dalam sebuah ruang
Kupandangi dirimu yang penuh dengan cahaya yang terang
Tapi apalah daya aku tuk menggapaimu
Melainkan hanya dapat melamunimu

Di dalam sebuah ruang
Kulihat engkau tersenyum
Inginlah kubalas engkau dengan senyum
Tapi, apalah daya
Karena ruangan memisahkan kita
Dan aku hanya sanggup memandangimu
Yang berada dalam ruang kaca
Yang berisikan kenangan-kenangan tentang kita

Yogyakarta, 26 Maret 2013

Thursday, March 7, 2013

Bimbang

Apakah layak
Bila semua ini harus kubuang
Semua akan kemampuanku
Layaknya kutinggalkan ia laiknya barang loak

Apakah layak
Ketika aku terus mengatakan
Aku begini-dan-begitu
Sedangkan aku hanya begini-dan-begitu
Dan ternyata itu hanyalah omongan belaka

Apakah aku layak
Tuk katakan pada mereka
Bahwa aku ingin terbang
Sedang aku tidak pernah bergerak
Bahkan tak bergeming dari sangkarku pun tidak

Apakah aku layak
Untuk terus seperti ini
Terus terdiam dan tak bergerak
Layaknya kayak di hamparan lautan luas
Yang bergerak hanya menurut dengan ombak
Terdiam dan hanya pasrah
Kepada ombak yang membawanya

Mu'allimin, 2 Maret 2013

Sebuah perubahan, dimulai dari ...?
kemanakah akan berlabuh...??

Saturday, December 22, 2012

Kalkulator Syntax Error


Well kawan, gimana nih kabarnya saat ini? Semoga aja tetap sehat dan semangat serta tetap tersenyum di setiap harinya ya. Akhirnya setelah berdiam diri sekian lama di ... (silahkan ditafsirkan sendiri-sendiri), akhirnya dapat juga inspirasi yang bejubel banyak sekali di otak sampai-sampai otakku mau meledak (alay XD). 

 Ada yang tau kalkulator?, alat hitung mekanik yang biasa dipakai pedagang untuk menghitung total pembayaran yang harus dibayar, atau biasa digunakan oleh teman-teman kita untuk menghitung sebuah deretan angkat dengan rumus-rumusnya. 
Dengan adanya kalkulator, pekerjaan kita bisa terselesaikan sangat cepat atau bahkan lebih cepat daripada seperti biasanya. Ada banyak bermacam-macam merk kalkulator yang disediakan oleh produser-produser seperti, Casio dan lain sebagainya. Tapi, ada yang pernah dengar ga “Kalkulator Syntax Error”? Pasti pada penasaran semua, hehehehe

“Kalkulator Syntax Error”, itulah nama yang kami sematkan kepada semua kalkulator ilmiah (yang ada sin,cos,tan,dll). Istilah “Syntax Error” biasanya muncul di kalkulator ilmiah apabila input data yang kita masukkan ke dalam kalkulator, oleh program kalkulator tidak bisa dibaca (alias salah input) yang menyebabkan kalkulator tidak bisa memproses angka tersebut. Contohnya saja kalau kita masukkan angka 15/0 (lima belas-dibagi-nol), pasti akan muncul tulisan “Syntax Error”. Karena, sudah pasti semua angka yang dibagi “0” pastinya tidak bisa didefinisikan. Logikanya aja, mana ada sesuatu itu dibagi “0” (ya kan)
Syntax Error :)
Nah, awal mula kami menyematkan “Syntax Error” ke kalkulator ilmiah yang kami gunakan bermula ketika kami mengikuti pelajaran Ilmu Falak (Ilmu tentang menghitung pergerakkan benda-benda langit untuk menentukan arah kiblat,awal waktu shalat,dll). Saat itu materi yang kami dapatkan adalah tentang “awal waktu shalat”. Di materi itulah kami diberikan langkah-langkah bagaimana cara menghitung awal waktu shalat dengan benar. Tapi jangan dikira, menghitung awal waktu shalat itu sama seperti menghitung matematika seperti pelajaran di kelas. Karena, ada banyak data-data yang harus kita hitung sin,cos,tan dan lain sebagainya (contohnya menghitung Cos 34O32’45”). Oleh karenanya, kalkulator ilmiah sangat dibutuhkan untuk menghitung angka-angka tersebut.

Yang jadi masalah ketika kami menghitung data-data tersebut adalah, terkadang kami kurang teliti memasukkan angka. Karena, sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal pada hasil perhitungan (apalagi kalau sudah diterapkan di kehidupan). Dan salah satu kesalahan yang paling fatal adalah ketika kita sudah memasukkan angka dan ternyata layar di kalkulator bertuliskan “Syntax Error”. Parahnya kalau sudah seperti itu, mau ga mau harus mengulang dari awal (apalagi kalau sudah ngitung susah-susah, hasilnya malah Syntax Error).

Nah dari situlah ketika kami ingin menggunakan kalkulator ilmiah untuk mengerjakan Ilmu Falak, kami selalu bilang “Eh kang, kamu punya kalkulator Syntax Error ga?” dan lain sebagainya (pokoknya ada kata Syntax Error lah,hehehe). Tapi semoga aja kalkulator “Syntax Error” hanya berlaku di mapel Ilmu Falak dan ga kebawa sampai kuliah (kan wagu kalau kuliah bilang ke dosen “Pak kalkulator “Syntax Error” saya rusak, hehehe)

Sunday, November 18, 2012

Akhirnya Khutbah Juga :)

Assalammu'alaikum

Yeyeyey, balik lagi kita dengan bongkahan tulisan tangan yang baru. Nah kali ini aku akan sedikit menceritakan tentang tugas kelulusan madrasah yang dulu pernah aku ceritakan ke teman-teman semua nih (buat yang belum baca, bisa baca di sini).

Nah untuk kali ini aku akan share tentang tugas "Khutbah Jum'at" yang menjadi syarat mutlak untuk kelulusanku dari madrasah sebagai salah satu bentuk follow up dari program pelatihan khutbah yang telah kami dapatkan saat kami kelas XI. Seperti yang dulu aku ceritakan, kami semua diminta untuk membuat teks khutbah (sumbernya dari mana saja) dan nantinya akan kami ketik dan kami serahkan kepada pembimbing kami untuk diberikan arahan-arahan (dan tentu saja koreksi materi).

Nah, minggu lalu adalah giliranku untuk maju sebagai Khatib Jum'at dan akan dinilai oleh pembimbingku apakah dinyatakan lulus atau tidak. Karena, kalau aku tidak lulus, berarti aku harus mengulang lagi khutbahku di tempat yang berbeda. Untuk kesempatanku ini, aku menjadi khatib di Masjid Amanah yang bertempat di belakang makam pahlawan (aku lupa nama jalannya) setelah pembimbingku dapat permintaan dari takmir masjid yang ternyata adalah teman beliau untuk menjadi khatib di sana. Langsung saja beliau menyanggupi.

Tapi ada yang lucu sebelum aku maju menjadi khatib. Soalnya, 3 hari sebelum aku maju sebagai khatib, aku ngumpulin teks khutbah untuk dikoreksi sama beliau. Setelah teksnya aku berikan,beliau bilang seperti ini "Dli, nanti saya carikan tempat untuk khutbah. Tapi sementara ini teksnya saya pegang dulu untuk saya koreksi." dan aku hanya mengangguk. Cerita lucu sekaligus mengagetkan adalah ketika aku sedang makan di warung depan asramaku, beliau ada di sana dan ketika aku nanya tentang teks khutbahnya, beliau balas bertanya

"Dli, kalau kamu maju khutbah besok bisa ga? Teman saya yang jadi takmir di sana minta saya jadi khatib, jadi karena saya pembimbingmu, sekalian aja kamu yang maju khatib biar cepat selesai tugasmu." Ucap beliau.

Langsung aja aku kaget. Lah aku aja belum bimbingan sama sekali, kok tiba-tiba aku langsung diminta untuk maju. "Lah, saya sih kalau secara mental udah siap. Tapi teksnya gimana pak?" Tanyaku.

"Gampang aja. Besok pagi setelah shubuh kita langsung bimbingan sebentar aja. Habis itu kamu perisapan sendiri aja." jawab beliau.

Glek! Parah bener. Masa bimbingan cuman sekali. Tapi ya apa boleh buat, toh juga materi teks khutbahnya aku ambil dari blogku sendiri. Jadi tidak ada masalah.

Akhirnya, Jum'at paginya aku bimbingan ke beliau setelah shalat shubuh.

"Assalammu'alaikum wr.wb. Alhamdulillah......" Teks khutbah yang sudah aku pegang, kubacakan mulai dari pembuka khutbah,do'a penutup khutbah pertama,pembuka khutbah kedua dan do'a seperti apa adanya. Akan tetapi, ketika aku menyampaikan materi, aku mencoba untuk tidak melihat teks. Alhasil, ternyata aku masih banyak kurangnya dalam masalah penyampaian. Meskipun begitu, materi yang aku berikan sudah cukup memadai untuk disampaikan dalam Khutbah Shalat Jum'at.

"Sip, udah bagus kok. Tapi ada beberapa yang harus diperhatikan. Kalau bisa cara bicaramu dirapikan lagi, jangan seperti tadi, masih berantakan. Tapi bagus kok kamu udah berani ga terlalu banyak lihat teks."

Sip dah, kalau begitu tinggal latihan sendiri dan siap maju deh siangnya :)

Kamipun janjian jam 11 kami sudah harus berangkat dari asrama menuju masjid yang kami tuju dan kamipun sepakat berangkat ke sana tidak usah menggunakan sarung, karena jaraknya yang jauh (yah sekitar 15 menit kalau naik motor). Setelah siap-siap (mandi dan makan tentunya), akhirnya jam 11 aku dipanggil oleh beliau untuk berangkat naik motor ke Masjid Amanah. Selama di jalan bukannya memperhatikan jalan, malah liatin teks khutbah terus sambil latihan improvisasi. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menitan, akhirnya kami sampai di masjid tersebut dan langsung saja disambut sama pengurus takmir masjidnya yang ternyata adalah teman seangkatan pembimbingku.

"Ini mas, anak Mu'allimin yang nanti khutbah."
"Ok deh kang. Langsung duduk di depan aja. Nanti jam 12.45 tak kasih aba-aba buat mulai khutbahnya." kata masnya.

Ok lah, ada waktu sekitar setengah jam.  Langsung aja aku duduk di shaf depan dan tak lupa aku juga sempatkan baca selebaran "Risalah Jum'at" yang diterbitkan PWM DIY dan setelah itu aku lagi-lagi fokus kepada teks khutbahku karena aku ga mau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Tiba-tiba saja,

"Mas silahkan sudah masuk waktu." Punggungku ditepuk oleh pengerus takmir yang tadi menyambutku ketika datang ke masjid tersebut dan langsung saja aku maju dan langsung ambil nafas dalam dan...

"Assalammu'alaikum wr.wb..." Ucapku dan dilanjutkan adzan dan setelah itu aku memulai khutbahku dan alhamdulillah lancar sampai terakhir.

Ketika sudah selesai shalat, sebelum kami pamit dari Masjid Amanah, aku dipanggil sama bapak-bapak di masjid tersebut. Ketika sedang bersalaman, bapak tersebut memberikan amplop kepadaku. Awalnya mau menolak karena tidak enakkan, tapi pembimbingku mengisyaratkan untuk menerima amplop tersebut dan akhirnya setelah kami berterima kasih, kamipun pamit pulang.

Ketika dalam perjalanan menuju pulang, aku ditanya sama pembimbingku.

"Gmana tadi rasanya? Tapi secara keseluruhan kamu sudah saya nyatakan lulus. Besok-besok kalau saya ada jadwal, kamu siap-siap aja saya minta maju." Ucap pembimbingku sambil memberikan penilaian terhadapku.

"Oh ya, besok-besok kalau kita dikasih sesuatu oleh orang lain karena hasil usaha kita, diterima saja. Karena dalam etika itu ndak baik. Yang paling penting adalah, jangan sampai kita menunjukkan gelagat bahwa kita menginginkan sesuatu. Karena, amplop yang tadi mereka kasih itu sebagai tanda terima kasih dan penghargaan atas usahamu. Paham kan?" Lanjut pembimbingku.

Oh, pantas saja tadi beliau mengisyaratkan kepadaku untuk menerima amplop tersebut. Akhirnya, kamipun melanjutkakan perjalanan kami sampai ke asrama dan setelah itu aku beraktifitas seperti biasa lagi deh. Dan pastinya, pengalaman khatib kali ini benar-benar WAW deh, dan juga tugas kelulusanku tinggal praktek mengajar (insya allah minggu depan) dan membuat Kartu Anggota Muhammadiyah :)

Friday, October 19, 2012

PR Sebelum Kelulusan

Assalammu'alaikum

Siang yang cerah selalu menemani kita hari ini. Meskipun sekarang mulai masuk musim penghujan setelah musim kemarau membuat keringat kita diperas dengan deras oleh terik matahari, sekarang saatnya kita beradem-ademan di bawah dinginnya udara ketika mendung dan hujan, hehehe. 

Bagaimana nih kabar kawan-kawan pembaca sekalian? Semoga aja tetap sehat ya, semoga tetap semangat dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan lika-liku. 

Kawan, siapa sih yang ga tau apa itu tugas kelulusan yang mana tugas tersebut menjadi tugas wajib yang harus dikerjakan demi kelulusan kita di sekolah (biasanya sih di SMK, tapi mungkin saja SMA juga ada atau bahkan SMP)? Pasti tahu semua kan? Nah kali ini aku akan sedikit berbagi tentang Tugas Kelulusan atau PR yang harus dikerjakan untuk kelulusan belajar di sekolahku (Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta).

Nah, di sekolahku ini ada program wajib yang harus diselesaikan oleh siswa-siswanya demi kelulusan mereka dari sekolah. Tugas ini dibebankan kepada siswa kelas XII Aliyah (setara 3 SMA) semua jurusan baik itu IPS,IPA ataupun Agama (MAK). Tugas-tugas wajib tersebut ternyata tidak sekedar untuk syarat kelulusan dari sekolah, akan tetapi juga sebagai salah satu cara yang dilakukan sekolah kami untuk mempersiapkan kami semua yang akan terjun di masyarat. Meskipun nantinya terdengar sulit, akan tetapi bagi kami ini adalah tantangan kami semua dan tak lupa program ini pastinya akan menjadi kenangan dan pengalaman paling nempel di ingatan kita semua. Mau tahu apa aja tugas-tugasnya? lets check it out

1. Khutbah Jum'at

Khutbah Jum'at menjadi salah satu dari sekian tugas wajib kami untuk kelulusan setelah waktu kami kelas XI, kami mendapatkan pelatihan khutbah dari madrasah (baca sekolah). Nah, kami satu angkatan akan dikelompokkan menjadi beberapa kelompok (tergantung jumlah siswa dalam satu angkatan kelas XII). Untuk angkatanku, kurang lebih ada 15 kelompok yang akan dibimbing oleh Ustad-Ustad kami baik yang mengajar di madrasah maupun yang menjadi pamong/musyrif kami di asrama (bahkan sampai Direktur Madrasahpun ikut). 

Sebelum kami maju untuk khutbah, kami harus mempersiapkan materi khutbah dan sudah dalam bentuk hardcopy yang nantinya dikopikan dan kopiannya diberikan ke pembimbing supaya mendapatkan perbaikan ataupun penambahan. Setelah teks dikumpulkan ke pembimbing, kami akan dilatih mulai dari intonasi,gaya bicara dan lain sebagainya (pokoknya A-Z). Baru deh setelah kami dibimbing, kami dicarikan jadwal untuk khutbah. Biasanya yang paling mudah itu khutbah di masjid sekitar madrasah dan masjid madrasah. Karena, kalau masjid di sekitar madrasah, sudah menjadi langgangan bagi madrasah (karena kakak kelas kami dari turun temurun juga seperti itu). Tapi untuk yang di luar lingkungan madrasah, biasanya kami akan menggantikan jadwal dari pembimbing kami (ada yang di masjid SMA,SMP bahkan sampai yang beda kota sekalipun, tapi masih lingkup DIY).

Ada cerita menarik dari Program Khutbah Jum'at yaitu, ketika salah satu temanku bernama Hanif yang seminggu yang lalu (kalau tidak salah) dapat tugas dari pembimbingnya untuk khutbah di masjid salah satu SMA di Yogyakarta. Saat itu kata dia, ketika sudah turun dari mimbar dan selesai Shalat Jum'at, dia tiba-tiba disalami sama Takmir Masjidnya

"Mas, terima kasih banyak ya atas ilmunya. Kapan ya anak-anak SMA di sini bisa seperti Mas Hanif"

Dari situlah, Hanif pada suatu malam saat kami selesai Shalat Maghrib dia langsung maju ke depan dan bercerita pengalamannya ketika khutbah. Ada satu yang memotivasi kami semua yaitu ketika dia bilang "Sebenarnya masyarakat itu butuh kalian. Jadi segera yang belum khutbah jum'at, sekarang ya digarap (dikerjakan). Banyak masyarakat yang udah nungguin kalian."

2. Praktek Mengajar

Praktek Mengajar juga menjadi tugas wajib kami untuk kelulusan dari madrasah. Kenapa? Karena salah satu visi dari sekolah kami adalah menciptakan kader pengajar dan bisa dilihat dari nama madrasah kami yaitu Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Kata "Mu'allimin" adalah jamak dari kata Bahasa Arab yaitu, "mu'allim" yang artinya adalah pengajar. 

Oleh karena itu secara tidak langsung kami setelah lulus dari madrasah, dituntut untuk dapat bisa mengajar di manapun dan kapanpun. Terlebih lagi mengajarkan ilmu yang bermanfaat supaya menjadi amal yang tidak akan terputus ketika kita sudah wafat.

Pertanyaannya adalah, kita kan masih Aliyah, masa tiba-tiba diakhir tahun harus praktek mengajar? Kan aneh? 

Jawabannya mudah. Selama kami di jenjang Aliyah, kami mendapatkan tambahan pelajaran muatan lokal. Yaitu, Ilmu Keguruan (sebagian menyebutnya Ilmu Kependidikan) yang mana mapel (mata pelajaran) tersebut diberika kepada Siswa-Siswa Aliyah dalam rangka mempersiapkan mereka untuk dapat mengajar setelah lulus dari madrasah dan memiliki pengetahuan lebih tentang dinamika pendidikan yang mana pendidikan itu bisa kita dapatkan di mana saja. 

Nah, tindak lanjut dan evaluasi dari mapel tersebut itulah yang disebut dengan Praktek Mengajar. Kami yang kelas XII Aliyah akan mengajar di kelas adik-adik kami yang masih di jenjang Tsanawiyah (setingkat SMP), dengan bimbingan dari guru pengampu mapel di kelas Tsanawiyah yang kita jadikan tempat untuk praktek. 

Di sini, kami diberikan kebebasan untuk menentukan akan mengajarkan mapel apa, di kelas berapa dan metode yang akan digunakan yang nantinya akan kami isi di form yang diberikan oleh Kepala Urusan Kurikulum Aliyah. Setelah kami mengisi form tersebut, kami akan ditemukan dengan guru pengampu mapel dan kelas yang kita pilih. Nantinya kami akan dibimbing untuk membuat RPP (rancangan program pembelajaran), mulai dari alokasi waktu, kegiatan dan evaluasi. Tidak hanya itu, kami juga akan diarahkan bagaimana sebaiknya mengajar siswa-siswa di kelas tertentu, karena setiap kelas memiliki karakteristik yang berbeda. Setelah bimbingan selesai dan kami dinyatakan siap oleh guru pengampu/pembimbing, kami akhirnya masuk ke kelas Tsanawiyah untuk mengajar pada hari di mana guru pengampu yang menjadi pembimbing kami mengajar di kelas tersebut selama 2x35 menit. Selama waktu yang diberikan itulah kami dibebaskan untuk menggunakan metode mengajar sesuai yang direncanakan bisa (game dan lain sebagainya), menguasai kelas dll.

Tapi, tidak sedikit juga yang dikerjain sama adik-adik Tsanawiyahnya ketika mengajar di kelas karena sudah dekat. Tapi, disitulah kami dilatih untuk menjaga kewibawaan kita sebagai guru dihadapan para muridnya. Dari kegiatan tersebut banyak sekali pengalaman yang akan kita dapatkan mulai dari bagaimana cara menguasai kelas dan lain sebagainya.

Aku masih ingat ketika salah satu kakak alumniku tahun 2007 kemarin namanya Kak Zainuddin. Nah, beliau mengajarkan Matematika di kelas penuh dengan canda dan tawa. Sehingga, materi Matematika akhirnya bisa masuk dengan lancar (padahal tahu sendirikan bagaimana sulitnya matematika). Ada lagi yang menarik, ketika Kak Zainuddin mengajar, banyak hadiah yang diberikan ke anak-anak yang bisa mengerjakan soal yang diberikan di papan tulis (ada juga ikat kepala Naruto yang lambangnya desa Konohagure). 

3. Ujian Lisan Kemuhammadiyah dan Kartu Anggota Muhammadiyah

Yang terakhir adalah Ujian Lisan dan Pembuatan KTA Muhammadiyah. Ujian Lisan Kemuhammadiyahan (KMD) nantinya akan dilaksanakan di Gedung Lama PP Muhammadiyah di Jl. KH.Ahmad Dahlan (tapi tergantung madrasah keputusannya nanti di mana, tapi biasanya di sana). Nantinya kami akan dites secara lisan oleh Bapak-bapak dari Pimpinan Muhammadiyah tentang penguasaan materi tentang Ideologi Muhammadiyah dan segala seluk beluknya. Di sini kami akan diuji sudah seberapa pahamkah kami dalam memahami Muhammadiyah, karena salah satu visi dari madrasah kami juga menciptakan kader Muhammadiyah yang militan.

Tidak hanya itu, pembuatan KTA Muhammadiyah juga menjadi syarat kelulusan bagi kami (bahkan syarat mengikuti ujian kelulusan). Karena, setelah kami memiliki KTA tersebut secara tidak langsung kami harus melaksanakan tugas kami sebagai "Anak Panah Muhammadiyah" dan juga sebagai tanda bahwa kami sudah menjadi anggota resmi Muhammadiyah, bukan sebagai partisipan Muhammadiyah.

Kawan, itu tadi 3 tugas yang harus kami lakukan dan kami kerjakan demi kelulusan kami dari madrasah. Batas waktunya ya dari kami naik kelas XII sampai kami lulus. Tapi, kami seangkatan sudah sepakat bahwa untuk poin nomor 1 dan 2 harus segera selesai pada semester pertama supaya nantinya ketika semester kedua kami bisa lebih konsentrasi ke Ujian Nasional. Sekarang tugas kami adalah, LIBAS SEMUA TUGAS hehehe.

Wassalammu'alaikum
Jangan lupa untuk selalu Do'a,Ikhtiar dan
Tawakkal dalam melakukan segala sesuatu yang sedang kita kerjakan :)



*Mohon doanya untuk kesuksesan kami di Ujian Nasional,Kelulusan dan SNAMPTN ya :) 

Sunday, October 7, 2012

CERPEN: Wasiatku Terhadap Ketiga Anakku

Alkisah di sebuah desa terpencil dari suatu pulau, hiduplah seorang guru agama yang bernama Pak Mukhlis. Ia hidup bersama seorang istri dan ketiga anaknya yang sudah mulai beranjak dewasa. Ke tiga anak ini memiliki kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ketiga anak tersebut adalah Iman,Ali dan Imran.

Iman adalah anak yang pandai dan cerdas, banyak teman sekolahnya yang menyeganinya karena Iman sangat pintar dalam pelajaran di kelasnya. Bahkan, wali kelasnya sendiri sering merekomendasikan Iman untuk mendapatkan beasiswa.

Ali adalah anak yang piawai dalam memimpin. Selama ia bersekolah, ia sangat disegani karena ia bijaksana dan amanah dalam menjalankan kepemimpinannya bahkan tidak jarang ia bisa membawa teman-temannya untuk benar-benar sadar bahwa mereka adalah calon penerus bangsa ini.

Sedangkan Imran adalah anak yang pemberani. Ia tidak segan-segan melarang teman-temannya untuk melakukan segala sesuatu yang dilarang oleh agama dan Negara, bahkan ia tidak segan-segan untuk menggunakan fisiknya ketika memang harus digunakan.

Pak Mukhlis dalam mendidik anaknya, selalu menceritakan kisah para nabi,sahabat dan para tokoh-tokoh terkenal dalam Islam seperti Imam Ghazali,Jabir Ibn Hayyan dan lain sebagainya di sela-sela menjelang tidur anak-anaknya ketika masih kecil karena, harapan beliau anak-anaknya kelak dapat menjadi seperti para tokoh-tokoh islam.

Akan tetapi, suatu ketika Pak Mukhlis khawatir yang melihat ke tiga anaknya saat ini. Iman yang karena kepintaran dan kecerdasannya, ia sedang mempersiapkan dirinya untuk ujian penerimaan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi nasional di tanah jawa yang terkenal, sering sekali telat dalam melaksanakan shalat lima waktunya. Bahkan pernah Pak Mukhlis memarahi Iman karena hampir saja ia melupakan shalat isya-nya karena sudah kecapean ketika belajar dan langsung tidur.

Berbeda dengan Ali, berkat kepiawaiannya, Ali mendapatkan tawaran kerja untuk menjadi salah satu dari jajaran CEO (Chief executive officer) di sebuah perusahaan besar di kota. Akan tetapi, sebelum Ali mendapat tawaran kerja di sana, ia sudah diamanati menjadi ketua takmir masjid. Karena kesibukkannya di kota, Ali pun semakin lama lupa dengan tugasnya sebagai ketua takmir masjid yang mana memakmurkan masjid di rumahnya.

Lain halnya dengan Imran, ia sekarang membangun sebuah usaha meubel di rumahnya. Imran yang berani menegur anak buahnya sering kali menjadi permasalahan di lingkungan anak buahnya sendiri karena sering kali Imran ketika menegur anak buahnya menggunakan kata-kata kasar.

Mendapati hal tersebur, Pak Mukhlis pun bingung ingin menasihati anaknya seperti apa dengan cara yang sesuai dengan umur mereka. Akhirnya, Pak Mukhlis teringat dengan ilmu yang pernah ia dapatkan semasa sekolah di sebuah pondok pesantren. Akhirnya, Pak Mukhlis pun memanggil ke tiga anaknya untuk shalat maghrib berjamaah di rumah. Ketika selesai shalat, Pak Mukhlis pun memulai pembicaraan kepada ke tiga anaknya.


“Wahai anakku yang telah beranjak dewasa dan akan menempuh perjalanan hidup kalian yang baru, bapak sangat khawatir dengan keadaan kalian akhir-akhir ini. Bapak sering kali melihat diantara kalian yang shalatnya sudah hampir tidak tepat waktu bahkan hampir tidak melaksanakannya. Diantara kalian pun ada yang sekarang meninggalakan tugasnya sebagai orang yang dipercaya untuk memegang suatu amanat, dan sebagian dari kalian ada yang menggunakan kata-kata kasar ketika menegur seseorang karena kesalahannya.” Kata Pak Mukhlis dalam rangka membuka pembicaraan.

Ketiga anak itu pun saling memandang satu sama lain karena mereka bertiga tidak paham kepada siapa pembiacaraan ini ditujukan, meskipun mereka bertiga mendengarkannya. Lalu, Pak Mukhlis pun berkata lagi
“Sebelum Allah menutup umurku, hendaknya aku mengingatkan kembali kepada kalian sebagai bekal kalian di masa depan dan supaya kalian tidak melupakan apa yang telah aku ajarkan kepada kalian.” Tutup Pak Mukhlis sebelum masuk ke persoalan.

“Wahai anakku, menurut kalian apakah yang paling dekat di dunia ini?” Tanya sang ayah

“Rumah,Masjid,Warung sebelah.” Jawab ke tiga anaknya secara bergantian

“Benar, wahai anakku. Akan tetapi ada yang lebih dekat daripada itu. Tahukah kalian?” Tanya sang ayah akan tetapi mereka menggelengkan kepala.

Akhirnya sang ayah pun berkata “Maut adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Kita tidak pernah tahu kapan maut memanggil kita semua. Bisa jadi setelah pertemuan kita ini, salah satu dari kita ada yang dipanggil oleh Allah untuk kembali kepadanya. Oleh karena itu anakku, selama engkau berkegiatan ingatlah kepada maut. Dan lakukan segala amalmu hanya dalam rangka untuk mempersiapkan bekal mu setelah mati.” Sang anakpun langsung terbelalak karena mereka akhirnya sadar bahwa sebenarnya maut ada di mana-mana.

“Wahai anakku, menurut kalian apakah yang paling jauh di dunia ini?” Sang ayah bertanya kembali

“Tanah Jawa,Luar Negeri,Luar Angkasa” Jawab mereka secara bergantian

“Benar, wahai anakku. Akan tetapi ada yang lebih jauh daripada itu. Tahukah kalian?” Tanya sang ayah akan tetapi mereka menggelengkan kepala kembali.

Sang ayahpun berkata kembali “Yang paling jauh adalah masa lalu wahai anakku. Ketika kita sudah melewati masa lalu, percuma bagi kita untuk mengulangi masa lalu yang telah kita lewati. Karena, masa lalu itu adalah sebuah pelajaran bagimu. Oleh karena itu, gunakanlah masa kini mu dengan benar dan canangkan masa depanmu.”

“Wahai anakku, menurut kalian apakah yang paling berat di dunia ini?”

“Yang paling berat di dunia ini adalah gajah yang amat besar,gedung-gedung perkotaan yang amat tinggi,peralatan-peralatan berat.” Serempak ketiga anaknya menjawab.

“Benar sekali anakku. Akan tetapi, dari semuanya masih ada yang lebih berat. Tahukah kalian?” Tanya sang ayah, akan tetapi mereka bertiga menggelengkan kepalanya kembali

Sang ayahpun berkata “Yang paling berat di dunia ini adalah memegang amanah. Ingatlah anakku, bahwa esok ketika kamu memegang amanah, gunakan amanah itu dan jagalah amanah yang telah diberikan kepadamu. Karena, sesungguhnya orang-orang yang tidak memegang amanahnya dengan baik, niscaya dia akan masuk ke dalam neraka. Ketika engkau mendapatkan sebuah amanat, tandanya orang-orang disekitarmu telah mempercayaimu, oleh karena itu jagalah amanah tersebut.”

“Wahai anakku, menurut kalian apakah yang paling ringan di dunia ini?”

“Sudah jelas kapas dan debu.” Jawab ketiganya secara serentak.

“Benar, akan tetapi masih ada yang lebih ringan daripada itu. Tahukah kalian?” Tanya sang ayah kembali dan mereka bertiga tetap menggelengkan kepala.

“Ingatlah wahai anakku. Bahwa yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan shalat. Kerap kali ketika kita sedang asik mengurusi sibuknya dunia, kita sampai melupakan shalat lima waktu. Kesibukkan dunia sering kali membuat diri kita terlena, terlebih lagi budaya pergaulan sekarang. Oleh karena itulah, jaga shalat wajib kalian jangan sampai kalian tinggalkan. Ingatlah bahwa shalat yang lima itu adalah tiang agama, dan barang siapa yang tidak melaksanakan shalat yang lima, berarti dia telah meruntuhkan tiang agama.”

“Yang terakhir anakku, menurut kalian apakah yang paling tajam di dunia ini?”

“Pisau dan Samurai.” Jawab ketiganya secara serempak

“Benar anakku. Akan tetapi masih ada yang lebih tajam daripada itu semua. Tahukah kalian?” Kembali mereka bertiga hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Lalu dengan sekejap sang ayah melanjutkan pembicaraannya. “ingatlah anakku, bahwa yang paling tajam adalah lisan (perkataan). Lisan yang keluar dari lidah kalian sesungguhnya lebih tajam daripada apapun. Luka yang dihasilkan oleh senjata, masih bisa disembuhkan dengan obat-obatan. Akan tetapi, luka yang disebabkan oleh lisan kenanya pasti ke hati dan tidak ada obatnya. Apabila hati seseorang telah terluka, maka dendamlah yang muncul di dalam dirinya. Jadi, jagalah lisan kalian agar tidak melukai hati orang lain sehingga mereka tidak dendam kepadamu.”

Sejenak mereka tertegun mendengar penjelasan ayah mereka. Akan tetapi, Pak Mukhlis langsung melanjutkan pembicaraanya kepada ketiga anaknya.

“Wahai anakku, ingatlah semua yang bapak sampaikan itu adalah cerminan dari kalian.” Serentak, ketiga anaknya kaget. Ternyata ayah mereka sedang menyindir dan menasehati mereka dan mereka tidak sadar.
“Iman, bapak sadar kamu sekarang sudah semakin sibuk untuk mengejar kuliahmu. Terlebih lagi kamu pintar dan sering mendapatkan beasiswa. Bapak bangga kepadamu, akan tetapi jangan sampai kamu tinggalkan shalatmu. Bapak rindu sekali saat-saat di mana kamu shalat berjama’ah bersama bapak terlebih lagi bapak sangat senang apabila kamu yang menjadi imam. Janganlah kau lupakan shalatmu, karena di dalam shalat pula terdapat do’a. Berdo’alah kepada Allah, mohon kemudahan kepada-Nya supaya kuliahmu bisa selesai dengan nilai yang baik.

“Imran, jagalah lisan dan perbuatanmu agar tidak menyakiti orang lain. Ingat seperti yang tadi bapak katakan, apabila kamu sudah menyakiti hati orang lain, maka yang muncul adalah dendam, dan dendam itu akan membawakan kepada kehancuran. Sayangilah orang-orang yang berada di bawahmu. Berikan hak mereka sebagai orang yang bekerja kepadamu. Meskipun mereka melakukan kesalahan, tegurlah dengan cara yang baik sehingga mendatangkan ketentraman di dalam hati mereka dalam bekerja. Sehingga mereka bekerja giat bukan karena takut, akan tetapi segan kepadamu.

“Dan yang terakhir kepada anakku Ali. Bapak tahu bahwa sebenarnya kamu sedang sibuk untuk mengurusi pekerjaanmu di kota. Akan tetapi, jangan sampai pekerjaanmu di kota membuatmu lupa bahwa kamu juga memiliki amanat di desa ini. Kamu sekarang dipercaya sebagai seorang takmir masjid, maka laksanakanlah. Ingat semua warga di sini percaya kepadamu, karena kapasitasmu sebagai seorang ketua takmir masjid sudah diakui oleh masyarakat. Setidaknya, ketika kamu sedang berhalangan, berilah kabar kepada pengurus takmir masjid yang lain. Akan tapi, jangan juga kamu selalu bebankan amanah yang seharusnya kamu lakukan kepada orang lain.”

Akhirnya ketiga anaknyapun sadar akan apa yang telah mereka perbuat. Dan sekali lagi sang ayahpun senang melihat perubahan yang terjadi kepada anaknya. Iman sekarang menjadi seorang dosen di salah satu universitas terkenal di kota di mana dulu ia berkuliah setelah mendapatkan beasiswa S2 ke Amerika. Imran saat ini berhasil melebarkan sayap usaha meubelnya sampai ke pasar nasional, bahkan tidak sedikit barang-barang produksinya yang di ekspor ke luar negeri. Tidak hanya itu, Imranpun sekarang menjadi orang yang disegani oleh para bawahannya karena sikapnya yang tegas tapi lembut. Sedangkan Iman, saat ini dipercayai oleh seorang pejabat negara untuk menjadi seorang direktur dari sebuah BUMN. Tidak hanya itu, Iman dalam melaksanakan amanatnya sebagai seorang direktur, ia juga berdakwah kepada para karyawannya.
Pak Mukhlispun senang melihat perkembangan ketiga anaknya yang sukses mencapai cita-cita mereka dan mereka tetap berdakwah di tempat mereka bekerja.

*****

“Wah dik, andaikata 10 tahun yang lalu bapak tidak menasehati kita semua, mungkin saat ini kita tidak akan mendapatkan nikmat yang besar seperti ini.” Ucap Ali kepada kedua adiknya saat mereka berkumpul keluarga besar pada saat Idul Fitri di kampung mereka.

“Iya kak, semoga Allah menerima bapak di sisi-Nya. Dan semoga amal-amal beliau diterima di sisi Allah. Amin” Jawab Imran dan Iman.

Di depan makam ayah mereka bertiga, anginpun bertiup bersepoi-sepoi menandakan waku yang semakin menjelang maghrib setelah langit semakin melukiskan warna kejinggaannya yang indah kepada mereka bertiga.

“Ayo Kak Imran,Kak Ali kita ke masjid. Udah mau waktu maghrib nih” Ajak Iman.

“Ayo” Serempak mereka bertiga meninggalkan makam ayah mereka dan pergi menuju masjid untuk melaksanakan shalat maghrib.




MyDormitory
6 October 2012,16.23 WIB

Wednesday, September 26, 2012

Alhamdulillah, Proposal Hidup 3 Tahun Yang Lalu Terwujud :')

Assalammu'alaikum

Kawan, apa kabar kalian semua? Semoga sehat-sehat saja ya.

Alhamdulillah nih kawan, aku ga nyangka dan sepertinya ini hari pertama dan juga hari di mana janjiku kepada diriku yang kutuliskan di proposal hidupku ketika 3 tahun yang lalu terwujud.

Kawan, alhamdulillah akhirnya aku bisa menerbitkan buku pertamaku. Ya buku pertamaku yaitu "Antologi Cerpen Bertema Cinta Bernilai Dakwah" yang diadakan oleh komunitas menulis yang aku ikuti bernama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang mana dalam proyek tersebut diambil 25 penulis yang akan diseleksi dari penulis-penulis lain untuk dimasukkan ke dalam proyek tersebut (meskipun aku gelombang ke-2 dan saat ini masih dalam proses terbit, jadi tunggu dulu ya).

Meskipun sebenarnya informasi ini sudah lama sekali aku dapatkan bahwa aku termasuk 25 penulis yang naskahnya akan diterbitkan dalam satu buku, tapi sampai tadi sebelum aku membuka grup FAM aku masih sangat khawatir. Kenapa? Soalnya aku satu-satunya peserta yang tidak mengumpulkan bukti pembayaran iuran untuk cetak buku tersebut, karena buktinya hilang entah di mana.

Jadi seperti ini ceritanya kawan. Saat aku masih buka-buka grup FAM dan saat itu masih gelombang pertama (karena gelombang ke-2 baru dibuka setelah ada pertimbangan dan masukan). Nah ketika sudah masuk sampai nama ke-23, aku sudah pesimis karena ga mungkin lagilah aku masuk 25 nominasi karena sainganku banyak banget dan rata-rata tulisan mereka pasti lebih bagus. Mulai sejak itulah aku tidak pernah meng-update informasi tentang antologi cerpen tersebut karena aku sudah pesimis.

Akan tetapi, aku kaget ketika sudah lewat 3 atau 4 hari kemudian. Rupanya aku lihat dibuka 25 penulis gelombang ke-2 karena banyaknya naskah yang dianggap qualified untuk diterbitkan (karena daripada mubazir, sekalian aja dibuat 2 buku). Nah, muncul kembali harapanku untuk bisa masuk ke dalam 25 penulis tersebut. Tapi, saat itu yang muncul sudah sampai 15 nama (kalau tidak salah) dan saat itupula semakin menciut lagi harapanku. "Kalau masuk ke 25 penulis tersebut alhamdulillah, kalau tidak ya sudah mungkin belum saatnya" kataku dalam hati. Tapi, tiap hari aku ikuti terus up-date berita antologi cerpen tersebut sampai aku bolak-balik minjem HP ibu/ayahku (karena punyaku ga bisa dipake browsing).

Sampai pada akhirnya ketika aku diperjalanan pulang menuju Jakarta (karena saat itu aku baru pulang dari Padang), kami berhenti di rumah makan untuk makan siang. Nah, aku sempatkan untuk minjam HP ayahku. Ketika itupula yang bertama aku buka adalah grup FAM (klik disini). Ketika aku buka, posting yang pertama muncul adalah informasi tentang up-date 25 nama yang terpilih untuk dibukukan dalam antologi tersebut dan alangkah kagetnya aku, ternyata alhamdulillah aku masuk dari 25 penulis tersebut (nomer 19). Langsung selesai makan aku bilang ke ayah-ibuku tentang informasi ini dan kebetulan ada ATM di deket rumah makan tersebut dan langsung deh aku kirim uang iurannya (untuk penerbitan).

Akan tetapi, permasalahan baru datang ketika aku belum mengumpulkan bukti pembayaran. Ternyata ketika aku buka grup lagi dan aku buka e-mail, di sana tertera bahwa ke-25 nama yang tercantum harus mengirimkan bukti pembayarannya. Masalahnya adalah, saat itu aku udah kembali ke asrama dan otomatis aku cuman bisa buka internet ya malam hari (itupun tergantung kondisi). Akhirnya aku coba cari-cari di mana bukti pembayarannya tak simpan, dan ternyata HILANG! Waduh, makin pesimis aku (soalnya pas aku tanya ke admin grupnya harus dikirim meskipun sudah ngasih konfirmasi). Nah lo, aku makin galau dah akhirnya.

Sampai akhirnya aku beranikan diri untuk nanya ke Bunda Aliya (Sekum FAM-nya) tentang kondisiku. Alhamdulillah kata beliau tidak masalah tapi beliau juga ngasih aku nasehat kalau besok-besok jangan sampai diulang lagi, karena terkait dengan kedisiplinan seorang penulis. Tapi, meskipun sudah mendapat jawaban demikian, aku masih belum tenang karena aku masih ga yakin bahwa karyaku akan diterbitkan karena aku satu-satunya (mungkin) peserta yang tidak mengirimkan bukti pembayaran untuk iuran kepada FAM karena kelalaianku (hilang). Sampai pada akhirnya aku bilang ke temanku yang sudah pernah tak kabarin kalau karyaku terbit "Eh, kayaknya karyaku ga terbit deh. Soalnya aku ga lengkap persyaratannya" (pokoknya ).

Sampai pada akhirnya aku ga percaya setelah buka grup FAM lagi bahwa cover untuk buku ke-2 antologi cerpennya sudah jadi dan ternyata namaku ada di sana. Alhamdulillah yaa Allah, aku ga nyangka masih bisa nyantol di sana namaku (padahal aku udah pesimis).

At least, aku mau ngucapin terima kasih kepada Bunda Aliya,FAM,Alif dan semua yang berperan dalam cerita ini. Karena tanpa mereka tidak mungkin aku bisa mewujudkan proposal hidupku 3 tahun yang lalu yaitu "Menerbitkan buku/novel yang bertema cinta" (aku masih ingat proposal itu dan masih ada dilemariku sampai sekarang dan aku selalu membacanya setiap pagi).

Alhamdulillah proposal hidup 3 tahun yang lalu
menjadi kenyataan (saat ini masih dalam proses penerbitan)
Thank a lot and zillion, i can't believe it can be happen :'). If you want to see the book,click here and you can book it by contacting Aliya Nurlaela 081259821511 :)

Wassalammu'alaikum

Friday, September 21, 2012

Melelahkan Tapi Memuaskan,Semangat!

Assalammu'alaikum

Kawanku, apa kabar kalian semua hari ini? Semoga baik-baik saja ya

Huft, ga kerasa nih ternyata 2 minggu belakangan ini aku harus merelakan waktu libur mingguanku (kamis malam dan jum'at) untuk mengurusi beberapa kegiatan yang cukup melelahkan dan bisa membuat galau ternyata. Mau tau nih ceritanya, yuk kita check it out

Jadi seperti ini kawan, baru saja hari ini aku menyelesaikan salah satu program kerja Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Mu'allimin Yogyakarta Periode 2011/2012 yaitu menjadi fasilitator untuk Up-Grading pimpinan IPM periode 2012/2013 di Maskan Jazman Al-Kindi,Kaliurang bersama para eks Badan Pelaksana Harian periode 2011/2012 dan Pembina IPM kami.

Seminggu sebelumnya (tepatnya hari Rabu-Jum'at), aku bersama seluruh teman-teman pimpinan, harus melaksanakan Musawarah Ranting yang mana agenda acara tersebut adalah laporanpertanggungjawaban pimpinan periode 2011/2012,sidang komisi yang membahas 1. Peta permasalahan,strategi dan arah kebijakan PR IPM Mu'allimin, 2. Evaluasi Gerakan Pelajar Kreatif dan 3. Rekomendasi-rekomendasi, dan agenda terakhir yaitu pengumuman ketua umum dan tim formatur terpilih.

Mau cerita yang mana dulu nih, mau Up-Grading atau Musran? Biar lebih enak, kita cerita dari Musran dulu ya biar urut nanti ceritanya

1. Musawarah Ranting

Alhamdulillah nih kawan, hari Rabu-Jum'at seminggu yang lalu akhirnya kami secara resmi sudah melepas tanggung jawab sebagai pimpinan (meskipun baru benar-benar lepas setelah pelantikan pimpinan periode 2012/2013). Sumpah, persiapa yang kami lakukan sangatlah pendek bahkan benar-benar pendek, mengapa? Karena kami harus mempersiapkan panitia lokal,laporanpertanggungjawaban tiap departemen dan materi Musran hanya dalam 5 hari , dan alhamdulillah selesai tepat pada waktunya (waw, ngebut make apa tuh garapnya).

Aku yang kebetulan (bersama Ketua 1 dan Ketua 2) pada saat Rapat Evaluasi Tengah Periode mendapatkan amanat sebagai Tim Materi Musran, secara otomatis harus menggarap dua pekerjaan sekaligus yaitu, LPJ dan Materi Musran. Ditambah lagi, aku harus mengarahkan panitia lokal untuk mempersiapkan Musran tersebut mulai dari menyebarkan undangan sampai masalah perizinan ke Madrasah.

Wah benar-benar deh menguras energi yang ada di tubuh sampai lemak di dalam tubuh ini meleleh keluar lewat pori-pori yang ada di kulit. Akhirnya, dengan mengucap basmallah aku coba untuk mulai melakukan semuanya secara teratur dan alhamdulillah sampai pada akhir acara semua berjalan lancar.

Hari pertama kami habiskan untuk membahas tata tertib dan LPJ dari ketua-bendahara (karena baru dimulai pada malam hari, sedangkan pukul 10 malam kami sudah harus balik ke asrama). Hari kedua, kami lanjutkan  LPJ dari Departemen Perkaderan sampai Departemen Sosial (jumlahnya ada delapan departemen) mulai dari ba'da ashar sampai pukul setengah 11 malam (karena hari jum'atnya libur jadi ada toleransi). Nah pada hari Jum'atnya, dari jam 8 sampai jam setengah 12, kami mengadakan sidang komisi yang terbagi menjadi tiga (seperti yang aku jelaskan tadi di awal). Setelah kami shalat jum'at di masjid madrasah, kami lanjutkan acara sampai jam 3 sore yaitu pengumuman ketua umum dan tim formatur terpilih yang nantinya mereka akan menentukan siapa saja pimpinan IPM periode 2012/2013.

Nah saat pengumuman ketua umum dan tim formaturlah yang menjadi momen paling menegangkan. Karena setelah diumumkan siapa yang menjadi ketua umum dan tim formatur, secara langsung merekalah yang akan memegang tanggung jawab sebagai pimpinan di periode mendatang. Ketika pengumuman tersebut, ada 3 calon ketua umum yang mana salah satu diantara mereka akan menjadi ketua umum dan dua orang lainnya akan menjadi tim formatur bersama enam orang lainnya.

Ketika akan diumumkan siapa yang menjadi ketua umum, aku sempat khawatir apakah Ketua 2-ku (wakil ketua terpilih oleh tim formatur dari kelas 1 SMA) akan menjadi ketua umum (karena sekarang ia sudah kelas 2 SMA), karena aku sempat khawatir apakah ia akan menjadi ketua umum (karena pemilihan dilakukan lewat pemilihan umum). Akan tetapi alhamdulillah ia jadi ketua umum, meskipun dia juga kaget kok bisa jadi ketua umum. Akhirnya, ditetapkanlah ketua umum PR IPM Mu'allimin yang baru beserta tim formaturnya.

2. Up-Grading

Setelah kami menyelesaikan Musran, akhirnya kami para BPH melaksanakan tugas terakhir sebelum pelantikan pimpinan yang baru, yaitu Up-Grading. Program ini diperuntukkan untuk pimpinan IPM yang baru menjabat sebagai pimpinan dalam rangka mempersiapkan para pimpinan untuk menghadapi tantangan yang akan mereka hadapi nanti setelah mereka dilantik secara resmi sebagai pimpinan.

Nah, Up-Grading ini kita diskusikan dengan pembina IPM kami dan kami memutuskan untuk tempat pelaksanaannya adalah di Maskan Jazman Al-Kindi di Kaliuran. Awalnya kami kebingungan untuk memutuskan tempat Up-Grading karena uangnya tidak mencukupi untuk transportasi dan konsumsi. Akan tetapi, alhamdulillah ada bantuan dari Kepala Urusan Pengembangan Kader Persyarikatan, sehingga kita bisa menutupi kekurangan tersebut dan akhirnya kami memutuskan untuk pelaksanaan Up-Grading di Maskan Jazman al-Kindi.

Kami berangkat hari Kamis jam 4 sore dan kami baru sampai di sana pada pukul 5 sore. Karena tanggung dengan waktu maghrib, akhirnya acara pembukaan dimulai ba'da maghrib dan dilanjutkan acara makan malam. Setelah makan, para pimpinan barupun mendapatkan materi pertama mereka dari Direktur/Kepala Sekolah Madrasah kami dan dilanjutkan dengan diskusi bersama pembina kami.

Hari kedua UP-Grading merupakan hari yang benar-benar melelahkan bagiku. Kenapa? Karena ba'da shubuh kami harus menyiapkan outbound-outbound yang sudah kami rencanakan. Aku kebagian outbound yang aku namakan "Aku Rela Jatuh" yang mana game tersebut bertujuan menguji kepercayaan antar satu sama lainnya. Nantinya, salah seorang dari kelompok mereka akan naik ke sebuah tiang setinggi setengah meter dan di harus berdiri di sana dengan membelakangi teman sekelompoknya dan nantinya dia akan menjatuhkan dirinya dengan pasrah. Teman sekelompoknya harus membuat formasi supaya bisa menangkap temannya yang akan jatuh dari tiang kayu tersebut dengan tepat.

Lucu juga sih lihat para pimpinan baru yang menjadi relawan untuk naik ke tiang kayu tersebut. Karena, ketika mereka sudah naik ke atas sana, mereka malah semakin takut bahwa teman-temannya tidak akan menangkapnya karena ia tidak boleh melihat (harus membelakangi) teman-temannya yang membuat formasi untuk menangkapnya. Akhirnya, ketika ada yang percaya bahwa teman-teman dibelakangnya akan menangkap dirinya, ia pun jatuh pasrah tanpa beban. Akan tetapi, ada juga yang masih tidak percaya kepada teman-temannya karena ia takut, dan pada akhirnya ia jatuh dengan posisi yang tidak enak dan menyakitkan dirinya beserta teman-teman sekelompoknya.

Setelah mereka outbound, saatnya mereka mendapatkan materi kembali. Akan tetapi materinya lebih kepada diskusi. Setelah materi berakhir, akhirnya mereka berdiskusi dengan kakak-kakak eks BPH IPM periode 2011/2012. Banyak sekali yang kami bahas (karena aku memegang ketua, karena aku mantan ketua umum), mulai dari permasalahan,bagaimana supaya komitmen berjalan bahkan sampai program kerja (dievaluasi secara bersama-sama).

Setelah kami berdiskusi, masuklah mereka ke dalam materi terakhir yaitu tentang harapan. Kebetulan aku yang memimpin materi tersebut (dan tentunya dengan bantuan pembina IPM-ku). Di materi tersebut aku hanya berpesan kepada mereka bahwa selama satu periode kepemimpinan mereka, akan ada dua harapan yang muncul yaitu dari pimpinan berupa visi-misi dan harapan anggota berupa kritik,saran,partisipasi dan lain sebagainya. Di materi tersebut aku tekankan bahwa, ketika mereka menjadi pimpinan, mereka harus menyatukan harapan di internal pimpinan terlebih dahulu dan setelah itu baru selaraskan harapan pimpinan yang sudah disepakati dengan harapan anggota lewat program kerja.

Akhirnya setelah materi tentang harapan tersebut selesai, tepat pukul 4 sore kami pulang menuju asrama kami masing-masing dan kami sampai di asrama pada pukul 5 sore. Untuk eks BPH, kami syukuran dulu di rumah makan bersama pembina kami (dalam rangka syukuran dan melepas penat) dan baru pulang ke asrama ba'da maghrib.

Ya itulah ceritaku tentang kegiatanku selama 2 minggu ini (minggu ini dan seminggu yang lalu) dengan mengorbankan waktu libur mingguan, apa ceritamu?(#iklan dikit, hehehe)

Lakukan segala sesuatu yang bermanfaat dan kami bisa melakukannya
 dengan semangat meski itu melelahkanmu

Tapi intinya seperti ini kawan, apapun yang kita lakukan di dunia ini, lakukanlah dengan enjoy,dengan kemampuan kita dan pastinya semata-mata karena tugas dan tanggung jawab yang harus kita emban baik dalam bentuk tanggung jawab pribadi ataupun tanggung jawab bersama. Dan jangan lupa, semua kita lakukan dalam rangka mencari ridha Allah, ok

Wassalammu'alaikum

Footnotes:
*BPH : Badan Pelaksana Harian (Istilah dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah), yang terdiri dari Ketua,Sekretaris,Bendahara dan masing-masing koordinator/ketua departemen/bidang.

*Musran : Musawarah Ranting (Istilah dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah) yaitu, permusyawataran tertinggi di dalam tingkat ranting yang bertujuan untuk menentukan kebijakan yang akan dijalankan oleh periode selanjutnya.

*LPJ : Laporanpertanggungjawaban

Wednesday, September 19, 2012

The Innocence of Muslim, Bagaimana Sikap kita Seharusnya

Assalammu'alaikum

Bismillahirrahman ar-Rahim

Kawan sekalian bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga tetap sehat dan seperti biasanya bisa beraktifitas.

Kalau kita sampai hari ini masih mengikuti berita yang sedang sangat hangat di media massa baik media massa nasional ataupun internasional, kawan sekalian pasti tahu isu tentang pelecehan agama yang dilakukan oleh seseorang di muka bumi ini lewat filmnya yang berjudul "The Innocence of Muslim" yang mana film tersebut melecehkan Nabi Muhammad (hayoo, pada update ga nih).

Nah, akan tetapi yang menjadi sorotan utama para media massa (selain isi dari film tersebut) adalah respon yang muncul dari masyarakat dunia (terutama umat muslim) yang mana menentang dan mengecam sang pembuat film tersebut, karena dapat kita lihat di beberapa media massa, banyak sekali berita yang mengekspos bagaimanakah respon para masyarakat terhadap film tersebut. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah, respon yang kita munculkan ternyata kurang bijaksana.

Coba kita lihat di media massa, di mana ketika muncul banyak respon yang mengecam film tersebut akan tetapi sebagian dari saudara kita meresponnya dengan cara yang salah. Kita lihat bagaimana saudara kita merespon berita tersebut dengan cara yang salah seperti merusak fasilitas bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Apakah itu benar? Padahal islam sendiri sudah mengajarkan kepada kita bagaimanakah cara kita menyikapi hal tersebut. Allah memerintahkan kepada kita semua untuk selalu berlaku ihsan baik dalam menyebarkan islam ataupun memerangi orang yang sudah menginjak-injak harga diri kita.

Melihat fenomena di atas, aku jadi teringat diskusi dengan salah satu guruku di kelas pada saat pelajaran jam terakhir di kelasku. Saat itu, salah seorang temanku bertanya bagaimanakah respon kita seharusnya menanggapi kasus film "The Innocence of Muslim". Ada beberapa hal yang disampaikan oleh guruku, intinya adalah kita harus menanggapi hal tersebut dengan bijaksana hikmah (dengan cara yang baik), bukan dengan cara yang merusak atau membawa madharat kepada orang lain. Karena pada hakikatnya, orang yang membuat film tersebut sebenarnya hanya ingin memprovokasi kita semua.

Ingatlah kawan, sungguh Allah telah berfirman di surat An-Nahl ayat 125

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah  mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk"

Allah memerintahkan kita untuk mengajak kepada seluruh manusia agar berpegang teguh kepada Jalan-Nya (Agama Islam) dan apabila ada seseorang/kelompok yang mengolok-olokmu, maka hadapi mereka dengan cara yang baik tapi tegas. Ingat, tegas di sini bukan berarti dengan cara kekerasan, akan tetapi kita menunjukkan bahwa kita siap menghadapi mereka (tentunya dengan cara yang benar).

Bukankah Allah juga memerintahkan kita dalam hidup ini untuk selalu berbuat adil dan ihsan, seperti firmannya pada Surat An-Nahl ayat 90

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Mungkin sebagian dari kita akan mengatakan bahwa harga diri kita sebagai muslim sudah diinjak-injak, jadi ini dapat dibenarkan untuk melakukan respon seperti itu. Memang benar sih, akan tetapi apakah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita untuk merespon dengan cara seperti itu (menghancurkan fasilitas,melempar bom molotov dan sebagainya yang dapat merusak)? Jawabannya tidak kawan.

Ingatkah  bagaimana sikap Nabi Muhammad ketika ia sedang berdakwah menyebarkan Agama Islam di suatu tempat, akan tetapi masyarakat di tempat tersebut menolaknya dan melempari dirinya dengan batu. Setelah Nabi Muhammad keluar dari kota tersebut, Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan berkata "Wahai Muhammad jika engkau berkehendak, aku akan pindahkan gunung tersebut ke kota tadi supaya mereka mendapatkan pelajaran akan perbuatan hina mereka kepadamu".

Akan tetapi, apa respon Nabi Muhammad? Beliau justru menolak permohonan Malaikat Jibril. Padahal, seandainya saja beliau mengiyakan permohonan tersebut, pastilah gunung yang ditunjuk oleh Malaikat Jibril akan dipindahkan ke kota tersebut sehingga menimpa semua masyarakat yang berada di dalamnya.

Lantas, apa yang harus kita lakukan setelah melihat betapa sabar dan bijaksananya Nabi Muhammad dalam menyikapi kasus yang hampir serupa dengan ujian yang dihadapi oleh Nabi Muhammad?

Kita, layaknya seorang muslim yang selalu berpegang teguh kepada ajaran Nabi Muhammad dan perintah Allah hendaknyalah menanggapi isu-isu tersebut dengan bijaksana dan dengan cara yang benar. Boleh kita marah kepada pelaku yang melakukan perbuatan keji tersebut, akan tetapi dengan cara yang benar. Mungkin kita bisa membuat kesepakatan bersama agar pelaku tersebut disidang oleh Mahkamah Internasional (karena sekarang ada PBB), atau yang lebih mudah adalah kita meminta pemerintah (lewat ormas-ormas) untuk ambil suara supaya pelaku tersebut diseret ke Mahkamah Internasional. Meskipun kita ingin dengan aksi turun ke jalan, itu sah-sah saja akan tetapi, tidak perlulah kita menghancurkan gedung,fasilitas umum bahkan sampai merengut nyawa orang lain karena pada hakikatnya itu hanya membawa kerusakan di muka bumi dan Allah membenci semua orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini.

Ingat kawan ketika kita merespon isu-isu yang serupa dengan cara yang kurang bijaksana seperti menghancurkan fasilitas umum, itu semua justru bukan membuat para pelaku takut akan kita tapi mereka akan senang bahwa mereka dapat membuktikan apa yang mereka katakan (entah yang mengatakan Islam itu identik dengan kekerasan dan lain sebagainya).

Allah dan para Nabi-Nya selalu mengajarkan kita bahwa Islam itu
indah karena kita harus hidup dengan adil dan ihsan
Dan terakhir kawanku, ingatlah bahwa Agama Islam itu diturunkan ke bumi ini sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi, sebagai ummat islam bertindaklah sebagai ummat yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta (bukannya membawa kerusakan). So, bijaksanalah dalam melakukan sesuatu. Mari kita gunakan akal dan hati kita sebelum kita bertindak, karena yang membedekan kita dari binatang adalah kita memiliki nafsu dan akal. Ingat, manusia akan menjadi lebih buruk daripada bintang apabila ia hanya menggunakan nafsunya, akan tetapi manusia akan menjadi lebih mulia daripada malaikat apabila ia menggunakan nafsu dan akalnya sesuai dengan tempatnya.

Alhamdulillahi rabbi al-'Alamiin

Trims and Waallahu a'alamu

Wassalammu'alaikum

Wednesday, August 8, 2012

THR, Bentuk Implementasi Bersedekah

Assalammu'alaikum

Apa kabar kawan-kawan malam ini, semoga baik-baik saja dan semakin sukses aja nih di setiap harinya.

Kali ini aku akan share sedikit tentang THR atau sering kita kenal dengan Tunjangan Hari Raya yang sudah menjadi kebiasaan kita ketika Idul Fitri (kita memberikan sejumlah uang kepada sanak saudara kita). Ternyata kawan, kebiasaaan THR ini adalah salah satu bentuk implementasi (penerapan)dari perintah Allah yaitu,bersedekah. Mau tahu alasannya? Check it out 

Sedekah yang biasa kita kenal, berasal dari kata bahasa Arab yaitu shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu dalam rangka mengharapkan ridha Allah semata.

Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang memerintahkan kita (manusia) untuk bersedekah atau menyisihkan sebagian hartanya secara sukarela agar dimanfaat untuk kebutuhan masyarakat umum ataupun kepada fakir dan miskin. Diantaranya, di dalam Surah Al-Baqarah ayat 254dan 267

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at[160]. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (Q.S 2:254)

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu." (Q.S 2:267)

Nah, dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Allah SWT memerintahkan kepada seluruh hambanya untuk menyedekahkan hartanya di jalan Allah semampu kita dalam memberikannya. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah ketika kita sampai saat ini, sebagian kita dari kita terkadang masih sulit untuk mengeluarkan sedekah. Tapi tenang saja, ternyata budaya Tunjangan Hari Raya yang biasa kita berikan kepada anak dan sanak kerabat kita adalah salah satu implementasi sedekah. Percaya ga?

Coba kita lihat ya. Ketika Idul Fitri datang menghampiri kita (setelah kita melewati Bulan Ramadhan tentunya), setelah kita melaksanakan Shalat Ied, pastinya sebagian dari kita akan menghampiri sanak kerabat kita yang dekat dari rumah, bahkan adapula yang langsung tancap gas menuju kampung halaman. Pastinya, kita sudah menyiapkan (bagi bapak-bapak/ibu-ibu) segepok uang mulai dari lima ribuan sampai ratusan ribuan yang akan kita berikan kepada sanak saudara kita (setelah memberikan THR kepada anak kita sendiri sebagai tanda penghargaan telah melewati Bulan Ramadhan).

Secara tidak langsung ketika kita sudah meniatkan seperti itu dan pada akhirnya kita memberikan THR kepada sanak kerabat kita, kita sudah melaksanakan sedekah. Karena, ketika kita memberikan THR tersebut kita secara otomatis juga menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk kita berikan kepada orang lain (dalam hal ini para anak).

Pertanyaannya adalah, apakah ketika kita memberikan THR ini pahalanya sama seperti kita memberikan sedekah? Jawabannya iya. karena seperti yang sudah saya sebutkan diatas tadi.

Tapi pertannyaan kedua adalah, apakah cukup sekali saja kita melakukan sedekah. Yaitu pada saat Idul Fitri? Tentu jawabannya tidak.

Ingat kawan, kita harus selalu bersedekah di manapun dan kapanpun kita berada semampu kita. Ingatlah kawan bahwa sebenarnya sedekah itu tidak hanya dengan harta (uang), akan tetapi bisa dengan yang lainnya. Karena, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk bersedekah sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita tidak memiliki harta banyak akan tetapi kita memiliki ilmu, maka sedekahkanlah ilmu kita kepada orang lain dengan cara mengajarkan ilmu yang kita miliki tersebut. Atau, ketika kita memiliki pengalaman berharga dan bisa menjadi sebuah motivasi, kita ceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain agar mendapatkan motivasi persis seperti kita. Karena, pada hakekatnya sedekah adalah kita memberikan sesuatu kepada sesama muslim secara sukarela dengan mengharap ridha Allah (tentunya memberikan sesuatu yang baik).

Masih ragu bahwa sesungguhnya kita bersedekah tidak hanya dengan harta, tapi sesuai dengan kemampuan kita? Mari lihat hadist berikut ini.

Rasulullah pernah bersabda (dalam hadist arbain)

"Apa-apa yangg aku larang untuk kalian semua terhadapnya (larangan tersebut), maka tinggalkanlah.Dan apa yangg aku perintahkan kepada kalian (perintah tersebut), maka kerjakanlah semampu kalian.Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah dibinasakan karena mereka banyak bertanya (segala sesuatu yang sudah jelas) dan mereka memusuhi para nabi mereka."

Dari hadist di atas jelas sekali Rasulullah memerintahkan kepada kita semua untuk menjalankan segala sesuatu yang diperintahkan olehnya sesuai dengan kemampuan kita (termasuk sedekah semampu kita).

Nah, tunggu apalagi nih ayo kita saling berlomba-lomba dalam bersedekah dan pastinya dalam hal-hal yang baik pula. "Dan berlomba-lombalah kamu dalam kebaikkan." Firman Allah SWT di dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur'an.

Ingat, salah satu keutamaan bersedekah/menafkahkan harta kita di jalan Allah salah satunya adalah akan dilipat gandakan harta yang telah kita sedekahkan oleh Allah SWT sangat banyak. Coba saja deh kita pikirkan, pernahkah kita bersedekah dan tiba-tiba ketika kita kehabisan uang tiba-tiba ada aja rezeki datang. Nah itulah keajaiban sedekah.

Mari mulai dari sekarang kita rajin bersedekah
Ok, itu tadi sedikit share dariku. Kalau ada yang salah aku mohon maaf dan bisa dikritisi kok postinganku (karena aku juga masih belajar).

Wallahu A'lamu

Wassalammu'alaikum

Sumber:  
Al-Qur'an Al-Karim
Hadist Arbain
Berbagai sumber

Tuesday, July 24, 2012

Sekali Lagi Dan Lagi Harus Kehilangan

Assalammu'alaikum

Bagaimana nih kabar para pembaca sekalian, semoga sehat selalu dan semakin mantap saja nih selama bekerja. Ok, kali ini aku mau sedikit bercerita bahwa hari ini hari paling mengenaskan yang terjadi di dalam keluarga ke-2 ku (bukan artian sebenarnya) atau angkatanku di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta (mungkin aku nantinya akan bercerita tentang angkatanku juga ya). Ini dia ceritanya

Entah ada angin apa kenapa kok tiba-tiba saja semua teman-teman seangkatanku tiba-tiba termenung ketika saat penerimaan raport. Waktu itu aku sedang tidak berada di madrasah karena masih menjalankan ibadah umrah. Akan tetapi, setiap kali aku buka facebook pasti ada pemberitahuan bahwa ada postingan baru di grup angkatanku. Hampir setiap hari aku buka grup angkatanku, akan tetapi untuk yang saat ini bagaikan petir di siang hari karena ternyata sebagian dari kawan-kawan kami harus tidak bisa melanjutkan perjuangannya bersama kami sampai kami lulus Aliyah/SMA.

Sebelumnya, aku sebenarnya menyadari bahwa sebenarnya angkatanku ketika masih kelas 2 Aliyah kami sering sekali membuat onar baik di asrama ataupun di madrasah (mulai dari yang bolos dan lain sebagainya). Akan tetapi, ketika kami akan memasuki masa-masa ujian kenaikkan kelas, kami semua baru sadar bahwa selama ini kami salah. Kepala Keluarga (Ketua angkatan) kamipun sampai mengatakan bahwa kami semua mulai sekarang harus menemui guru-guru kami untuk minta maaf dan mulai mengisi nilai-nilai harian yang kosong dan tidak lupa meminta maaf kepada orang tua juga. Akan tetapi, apadaya lah kami semua. Tidak semua guru yang mau menerima permintaan kami untuk perkara yang nomor 2 yaitu, minta diberikan kesempatan untuk mengisi nilai harian yang kosong (bagi guru-guru yang disiplin/killer).

Sebenarnya pada awalnya aku juga sempat bingung kenapa pada saat seperti ini baru kita semua sadar bahwa kita salah sampai pada akhirnya aku dan beberapa temanku harus menjadi ujung tombak agar dapat membujuk guru kami agar dapat memberikan kesempatan untuk mengisi nilai harian kami yang kosong (meskipun aku tidak terlalu berkontribusi). Sampai pada akhirnya, haruslah kami semua berjuang dengan yang namanya ujian kenaikkan kelas yang akan menentukan apakah kami semua bisa berjuang bersama-sama di kelas 3 Aliyah.

Ketragisanpun terjadi pada saat kami menerima hasi raport kami sebagai tanda apakah kami naik kelas atau tinggal kelas/naik kelas tapi harus keluar dari Mu'allimin. Di sinilah tangis dan kemurungan melanda kami semua bahkan sampai Kepala Keluarga kami-pun kehilangan semangatnya karena dia tidak tahu harus berbuat apalagi setelah ini semua terjadi. Akan tetapi, untunglah ada teman kami yang bisa membangkitkan semangatnya kembali. Akan tetapi tidak berhenti di saat itu saja, karena adalah 6 orang dari kelas IPS (mereka teman sekelasku) yang ternyata mereka masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki nilai ujian kenaikkan kelasnya agar dapat dinyatakan naik kelas oleh Madrasah. Pertanyaannya adalah, kalau semisal diatara mereka ada yang dinyatakan tidak naik kelas bagaimana? Apa mereka harus menunggu 1 tahun?

Dari kekhawatiran inilah kami (terutama teman-teman kelas IPS) berjuang mati-matian bagaimana caranya supaya ke-6 teman kami ini bisa dinyatakan naik kelas oleh madrasah. Kami semua mulai saling membantu, ada yang mengajarkan materi adapula yang sampai rela meminjamkan bukunya meskipun buku tersebut pada akhirnya harus ia cari kemana-mana agar ketemu kembali supaya dimasukan ke dalam lemarinya. Tiap malam kami bekerja keras bersama sampai kami harus tidur larut malam.

Aku masih ingat ketika salah satu dari ke-6 temanku ini bertanya "Dli, kok susah ya belajarnya. Aku dari tadi ga ngedong-ngedong (ngerti-ngerti) nih sama materinya". Akhirnya akupun hanya bisa memotovasinya kalau belajar itu harus fokus dan kadang aku berikan penjelasan-penjelasan dengan perumpamaan (karena siapa yang tidak khawatir ketika sedang dalam posisi seperti temanku ini?). Tidak hanya itu, aku masih ingat bagaimana ceritanya ketika harus membangunkan shalat shubuh (baik aku yang membangunkan atau musyrif yang membangunkan mereka) bolak-balik supaya bisa shalat berjama'ah dan banyak hal yang kami lakukan.

Akan tetapi, nasib naas menimpa 4 orang diantara 6 orang teman kami tersebut harus dinyatakan TIDAK NAIK. Entah apa yang terjadi siang itu, ketika aku tidur siang salah satu temanku teriak dengan marah karena ia dinyatakan tidak naik kelas (saat itu aku tidak tahu) dan saat itulah ia menangis. Akhirnya, kami mencari informasi tersebut dan hasilnya memang 4 orang diantara 6 orang teman kami harus berhenti dari perjuangan di Mu'allimin. Di sinilah rasanya kehilangan bagi kami anak-anak IPS, terutama aku. Karena 2 diantara mereka berempat adalah kelompok diskusiku selama kami menduduki kelas 3 Aliyah.

Perpisahan dan kehilangan memang sepahit cocoa
Akhirnya, kamipun bingung terhadap nasib kedua teman kami dari empat orang yang dinyatakan tidak naik kelas. Kami bingung harus berbuat seperti apa karena mereka hasilnya harus susah mencari sekolah karena semua sekolah sudah memasuki tahun ajaran baru dan otomatis pendaftaran ataupun penerimaan siswa baru sudah ditutup. Kalaupun bisa masuk, itupun harus ada orang dalam di sekolah tersebut. Entah apa yang harus kami lakukan saat itu. Kami hanya bisa berbicara kepada Madrasah untuk bisa bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan mereka diluar. Tanggung jawab yang kami minta hanya memberikan solusi kepada mereka agar bisa bersekolah di luar walaupun pendaftaran sudah ditutup (entah dengan surat rekomendasi atau lain sebagainya, karena kenapa harus ada status nanggung seperti ini.). Lebih tragisnya lagi, barusan aku chatting dengan salah satu guruku, beliau mengatakan ada 2 orang peserta pengabdian masyarakat (Mubaligh Hijrah) yang ternyata dinyatakan tidak naik kelas karena hasil remidi ujian kenaikkan kelasnya tidak mencukupi, padahal ia sedang bertugas 20 hari membawa nama baik madrasah. BAYANGKAN! betapa sakit hatinya ketika mendengar kabar tersebut.

Entahlah, aku tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Sedangkan sang police maker membuat keputusan seperti itu dan kami hanya bisa berjalan. Yah, pada akhirnya pula yang namanya kehilangan memang menjadi suatu yang akan teringat pertama kali dan akan selalu terkenang di hidup kita. Oleh karena itu, aku berpesan "Jagalah orang-orang yang ada disekitar kalian sehingga kalian tidak kehilangan mereka"

Wallahu a'lamu...

Wassalammu'alaikum, Salamku untukmu sobat :')

Saturday, July 21, 2012

Travelling to Baitullah 1: Masjid Nabawi (Masjid Pertama di Madinah)

Assalammu'alaikum

Selamat siang semuanya dan selamat menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan semuanya. Semoga tetap diberikan kekuatan oleh-Nya hingga kita dapat meraih hari kemenangan pada saat Idul Fitri , amiin...

Kalau sobat kemarin masih ingat tentang postinganku yang serupa yang judulnya Travelling to Baitullah (Start), kali ini aku akan melanjutkan ceritaku selama aku menjalankan ibadah umrah. Kalau kemarin aku baru bercerita selama perjalanan dari Indonesia ke Madinah, sekarang aku akan sedikit share tentang Madinah Al-Munawwarah yaitu tentang Raudhh dan Masjid Nabawi. Here we go


Alhamdulillah setelah perjalanan selama kurang lebih 7 jam dari Jeddah menuju Madinah, akhirnya kami sampai juga di Madinah sekitar jam 7 pagi (kalau tidak salah). Kami menginap di hotel Madinah Al-Mubarak dan alhamdulillah ternyata tempat kami menginap selama 3 malam dekat sekali dengan Masjid Nabawi. Setelah kami turun dari bis, kami langsung saja menyantap sarapan pagi dan setelah itu kami beristirahat sejenak untuk melepaskan penat selama perjalanan.

Ketika kami sedang sarapan, pemimpin rombongan kami (Ust. Hasnul) akhirnya berbagi cerita dan tempat-tempat mana saja yang harus kami kunjungi, bahkan beliau mewajibkan kami semua minimal kami dapat berada di Raudhah (taman surga artinya) sekali selama kami berada di Madinah. Penasaran apa itu Raudhah? Raudhah itu adalah tempat yang terletak diantara makan Nabi Muhammad SAW dengan tempat mimbar Rasulullah. Ditempat itulah insya allah do'a yang kita panjatkan kepada Allah mustajab apabila kita berdoa di sana, Subhanallah.

Akan tetapi, benar-benar butuh perjuangan dan keinginan yang kuat untuk kesana. Karena kita tahu kemuliaan ketika kita berdoa di sana adalah mustajab atau dikabulkan oleh Allah insya allah, maka banyak sekali jama'ah yang berdesak-desakan untuk dapat shalat dan berdo'a di sana. Bahkan, askar (penjaga/polisi) di sanapun harus benar-benar berjuang bagaimana caranya supaya semua jama'ah dapat shalat dan berdoa di sana barang sejenak dengan tertib (karena setelah shalat wajib, banyak sekali jama'ah yang ke sana, sehingga perlu adanya pengaturan oleh para askar).

Itu tadi adalah sekilas tentang Raudhah yang artinya adalah Taman Surga. Tapi seperti ini kawan, ketika kita memang benar-benar ingin ke Raudhah adalah yakinlah bahwa kita akan sampai ke sana dan jangan lupa selalu mohon kemudahan kepada Allah agar dimudahkan untuk mencapai Raudhah meskipun hanya untuk shalat 2 rakaat dan berdo'a sejenak. Akan tetapi, ada yang perlu diperhatikan juga. Ketika kita ingin shalat di sana dan ternyata sudah penuh, mintalah permisi untuk diberikan tempat agar dapat shalat di sana dan setelah kita menyelesaikan shalat kita, langsung kita pamit untuk keluar (karena keperluan kita sudah selesai dan sebagai tanda menghormati kepada yang lain/yang sudah berada di Raudhah lama sebelum para jama'ah berkumpul).

Kalau diantara kawan-kawan ada yang ingin ke Raudhah, ada waktu-waktu yang mungkin di sana agak sepi, yaitu saat jam 7-9 pagi. Pada saat-saat itulah Raudhah sedang sepi sehingga apabila kita ingin berlama-lama di Raudhah, aku sarankan pada jam-jam tadi. Tapi, perlu diingat bahwa mulai dari jam 8 sampai siang Raudhah itu diperuntukkan untuk jama'ah perempuan. Sehingga, luas Raudhah yang sebenarnya terbagi menjadi 2 bagian (satu bagian untuk jama'ah perempuan dan satu bagian lagi untuk jama'ah laki-laki).

Nah, itu tadi beberapa sedikit share tentang Raudhah. Nah yang terakhir tentang Masjid Nabawi.

Masjid Nabawi ini didirikan oleh Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu dinamakan Masjid Nabawi (Masjid Nabi) ketika Nabi Muhammad SAW datang saat hijrahnya kaum muslimin ke Madinah dari Mekkah. Di tempat ini juga, melekat tempat tinggal beliau. Sehingga tidak heran apabila ketika kita masuk ke dalam Masjid Nabawi dan terus maju ke depan sampai melewati Raudhah dan kita berbelok ke kiri, kita akan menemukan makam Nabi Muhammad (paling kiri), makam Abu Bakar Ash-Shidiq r.a (di sebelah kanan makam nabi) dan makam Umar Ibn Khattab (di paling kanan). Karena, kebiasaan saat itu dalam memakamkan seseorang adalah memakamkannya langsung di tempat mereka meninggal. Adapun ketika Rasulullah wafat di kamarnya, kamar beliau ditempati oleh Abu Bakar Ash-Shidiq r.a dan saat itu Aisyah r.a masih mendiami tempat itu karena Abu Bakar Ash-Shidiq adalah mahramnya. Sedangkan ketika Abu Bakar Ash-Shidiq r.a wafat di kamar Rasulullah juga, maka Umar Ibn Khattab r.a lah yang menghuni rumah Rasulullah dan saat itulah Aisyah r.a meninggalkan rumah beliau karena Umar Ibn Khattab r.a bukan muhrimnya.

Ada yang menarik dari Masjid Nabawi, yaitu payung-payung raksasa yang selalu meneduhi kita selama siang hari dan akan tertutup pada saat menjelang maghrib. Uniknya lagi, payung-payung raksasa ini terbuka dan tertutup secara otomatis. Selain itu tiang-tiang payung tersebut terdapat kipas angin yang cukup besar untuk menyejukkan para jama'ah di sana. Sehingga tidak jarang banyak jama'ah yang membawa keluarganya dan duduk sebentar disekitar pelataran depan Masjid Nabawi.

Tidak hanya itu, di dalam Masjid Nabawipun rasanya tentram sekali. Karena ketika masuk di sebelah kiri kanan kita akan melihat termos air Zam-Zam yang berjejer panjang. Ketika kita sudah masuk lebih ke bagian tengah masjid, maka setiap 2-3 shaf akan ada termos air Zam-Zam di sana. Sehingga tidak perlu khawatir untuk haus karena ada banyak air Zam-Zam yang akan siap menghilangkan dahaga kita.

Waallahu a'lamu...
Bersambung, Wassalammu'alaikum


*berikut foto-foto yang aku dapatkan :)
Pintu masuk pelataran Masjid Nabawi dan payung raksasa ada di belakang
Ramainya Jama'ah tiap shalat wajib
Subhanallah ini gambar salah satu pemandangan Masjid Nabawi pada malam hari
Kipas angin yang menempel di tiang payung raksasa (atas), Masjid Nawabi pada malam hari (bawah)








 

Thursday, July 19, 2012

Travelling to Baitullah (Start)

Assalammu'alaikum

Apa kabar hari ini sembari tidak terasa sebentar lagi kita akan melaksanakan puasa di Bulan Ramadhan yang agung (meskipun ada yang berbeda dalam memulainya). Nah, kali ini aku akan share pengalamanku ketika alhamdulillah kemarin diberangkatkan oleh orang tuaku untuk berkunjung (umrah di baitullah). Yuk kita simak..


Sebenarnya awalnya aku ga tahu sama sekali kalau liburan semester kali ini aku diberangkatkan umroh oleh orang tuaku. Soalnya, dari awal aku sudah niat mau menghabiskan liburan di rumah saja. Akan tetapi, kata ayahku mumpung tahun ini tidak terlalu padat waktuku dan ada rezeki kenapa tidak berangkat umrah saja (dan pada akhirnya pun aku mengambil tawaran tersebut). Tapi aku tidak akan bercerita banyak apa yang aku lakukan di sana. Aku hanya bercerita apa saja yang ada di sana :D

Sebenarnya ada satu hal yang aku khawatirkan ketika akan berangkat umrah, yaitu nyasar. Soalnya aku berangkat ke sana tanpa ditemani siapapun (alias sendiri). Ketika di rumah aku sempat nanya, "pa, kalau semisal aan nyasar gimana?" dengan santai ayahku cuman menjawab "Ya tinggal tanya aja sama orang sana, hehehe.".

Alhasil,  aku pun berangkat dari rumah pukul 5 pagi (setelah shalat shubuh) ke bandara karena pukul 9 kita harus berkumpul di bandara untuk mengurusi bagian imigrasi. Nah, setelah kami selesai mengurus bagian imigrasi barulah kami masuk ruang tunggu dan berangkat pada pukul 1 siang.

*Nah, di sinilah aku ketemu dengan keluarga angkatku selama umrah. Jadi di satu rombonganku ada satu keluarga yang berangkat umrah. Nah kebetulan aku dari awal selama perjalanan menuju ruang tunggu ngorbrol terus dengan salah satu anggota keluarganya namanya Mas Kevin dan Mas Fajar. Dari situlah aku selama umrah bisa dekat dengan keluarga mereka. Karena aku juga selama umrah ngekor terus dengan mereka.

Kita kembali ke alur cerita :D

Perjalanan kami tempuh selama 10 jam dan kami transit dulu di Riyadh selama 4 jam. Tapi jangan dikira, di sana waktunya lebih lambat 4 jam dari Indonesia (makanya sampai di sana masih siang hari).Setelah kami transit di Riyadh selama 4 jam, akhirnya kami bisa melanjutkan perjalan ke Jeddah yang ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Yang menarik adalah ketika perjalanan ke Jeddah. Setiap tempat kursi yang kami duduki ternyata ada tempat buat USB (jadi bisa dengerin musik deh).

Setelah kami sampai di Jeddah (sekitar 11 malam), langsung saja kami berangkat naik bis yang sudah menunggu di sana untuk menuju Kota Madinah. Di sinilah ujian pertamaku ketika umrah. Karena ketika kami sedang shalat di sebuah masjid, ternyata jam tanganku ketinggalan di tempat wudhu dan aku baru sadar ketika sudah jauh dari masjid tersebut. Masyaallah, pikirku kok bisa ketinggalan. Alhasil ya aku berdiam saja mungkin itu ujian pertamaku selama umroh ini, karena pemimpin rombonganku (Ust Hasnul namanya) mengatakan di awal-awal bahwa kunci dari sukses dan tidaknya perjalanan dan ibadah kita adalah sabar. Karena, ketika kita tidak sabar maka ketidaksabaran itulah yang akan membuat kita celaka.

Akhirnya perjalananpun berlanjut sampai pada akhirnya kita sampai di Kota Madinah.

Bersambung, Wassalammu'alaikum....

*Ini beberapa foto yang aku ambil selama perjalaan Jeddah-Madinah


Kondisi Bandara di Riyadh (gambar atas dan bawah)


Subhanallah Matahari terbit :)