.quickedit{ display:none; }

Tuesday, March 15, 2011

Look What You've Done

Take my photo off the wall
If it just won't sing for you
'Cause all that'
s left has gone away
And there's nothing there for you to prove

Oh, look what you've done
You've made a fool of everyone
Oh well, it seems likes such fun
Until you lose what you had won

Give me back my point of view
'Cause I just can't think for you
I can hardly hear you say
What should I do, well you choose

Oh, look what you've done
You've made a fool of everyone
Oh well, it seems likes such fun
Until you lose what you had won

Oh, look what you've done
You've made a fool of everyone
A fool of everyone
A fool of everyone

Take my photo off the wall
If it just won't sing for you
'Cause all that's left has gone away
And there's nothing there for you to do

Oh, look what you've done
You've made a fool of everyone
Oh well, it seems likes such fun
Until you lose what you had won

Oh, look what you've done
You've made a fool of everyone
A fool of everyone
A fool of everyone


Sepertinya lagu ini cocok dengan keadaanku yang sekarang. Entah kenapa kok rasanya sku itu penuh kesalahan yang selalu mengelilingiku. Sebenarnya sih bukan cuman sekarang, tetapi sudah lama kok rasa bersalah selalu menghantui hari-hariku.

Jadi ceritanya begini. Kemarin temenku yang satu pimpinan ranting IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah)di sekolahku, ngajak untuk kumpul di masjid sekolah sepulang ujian MID semester (atau lebih tepatnya setelah makan siang). Aku ga tahu kumpul apa, tapiu kata temenku itu kumpul untuk bahas masalah angkatan sama IPM kedepan (karena kami masih kelas 4).


Singkat cerita, kami kumpul di masjid lantai 2 karena lantai dasar masjid sedang dipakai ta'lim. Nah pas masuk ke masalah angkatan, temenku (panggil arul) angkat bicara. Si Arul ini bilang kalau temen seangkatan kita Andi (nama samaran) keluar dari sekolah. Sebenarnya informasi ini sudah aku ketahui. Tetapi, aku kurang yakin apa beneran keluar atau ga. Dan akhirnya terjawab juga.

Kata si Arul, "Sebenarnya aku kaget si Andiu keluar. Dia itu temenku mulai dari kelas satu. Tapi kenapa coba tiba-tiba dia keluar? Aku baru sadar kalo kehilangan itu ga enak"

"Sekarang begini, seharusnya kita yang IPM ini bisa menjaga mereka. Mereka itu butuh bimbingan kita, dan ingat, dulu karena mereka kita bisa menjadi pimpinan IPM. Tapi, kita malah asik dengan kesibukkan sendiri. Kita sering dekat dengan adek kelas, kakak kelas. Tapi, sama angkatan kita malah ga dekat." Sambung Arul

"Maaf nih kalo aku nyebut nama. Dli, kamu itu jadi ketua karena dukungan angkatan. Apa kamu pernah main-main ke asrama 9? Kalo menurutku kayaknya kamu ga pernah main-main ke asrama 9. Kami disini sebenarnya butuh bimbinganmu, karena kamu yang berada diatas kami. Jadi tolonglah, apa mau temen-temen angkatan kita dikeluarkan lagi? Kalo iya, besok siapa yang akan melanjutkan jantung Mu'allimin karena kita pas kelas 5 nanti adalah jantungnya Mu'allimin. Maaf kalo agak atos." Tutup si Arul.

Sebenarnya, apa yang si Arul katakan benar. Tapi apa daya coba, aku sering dicuekkin angkatan. Seolah-olah aku ga dibutuhkan

"Ok rul, tapi aku bingung apa yang harus katakan ketika ikut ngerumpi. Aku ngomong aja ga diperhatiin, apalagi kalo aku ngajak ngobrol? Aku ga tau topik apa yang pas buat mereka"

"Eh dli, itu karena kamu aja yang belum terbiasa. Dulu aku juga pas main-main ke asrama 9 pasti dicemooh "Ngopo e rul? Tumben dolan nang asrama 9" (Ngapain rul? Tumben main ke asrama 9). Tapi aku ya biasa aja. sampai akhirnya, aku kalo main ke asrama 9 jadi biasa-biasa aja. Kamu aja yang belum terbiasa." Jawab si Arul

Ternyata, akulah yang kurang respect terhadap mereka semua. Benar apa kata Arul, aku kurang dan takut untuk mencoba. Tapi, sudahlah. Besok aku harus bisa mengayomi teman-temanku.

Thanks rul nasehatnya dan unek-unekkannya
Aku masih butuh back-up (bimbingan) dari mu.

1 comments: